Meniti, Mendaki dan Mencari
Yah blog di FS ini kliatanya hanya akan berisi puisi-puisi aj…klo kalian mo liat yang laen selain puisi klik aj di www.yangpertama.wordpress.com
Mulai lagi ah bikin puisinya, semoga bukan puisi cinta lagi…he3x..
Meniti, Mendaki dan Mencari
Ku mulai berjalan ditepi tebing Mahameru
Edelweis putih menyapa ramah bak perhiasan dewa
‘Hai, mau kemana kah kamu wahai jiwa yang terasing’
‘Entahlah, arahku menuju mahameru, menapaki jalan setengah berbatu’
‘Wahai pengembara jiwa melangkahlah menurut hatimu’
‘Ia adalah kompas yang takkan pernah menyesatkan ditengah padang kehidupan’
‘Terima kasih bunga abadi, akan kusimpan itu dalam kalbuku’
Aku pun beranjak dari keheningan jiwaku
Terlihat lima meter disana tanjakan yang penuh dengan mitos cinta menanti
ia pun berbicara dengan hati-hati
‘Mari pengembara muda, tanjakilah aku dengan sepenuh jiwa’
‘Jika keteguhan dan kesetiaanmu akan cinta melebihi tekadmu akan nafsu
maka kebahagiaan akan tercipta dari setiap relung hatimu,
Aku tertegun,
Belum pernah kurasakan jiwaku tergoncang begitu keras
Kukatakan pada diriku sendiri,
‘Cinta seperti halnya jalan diantara dua jurang,
jika tidak hati-hati dalam melangkah, hanya akan ada penderitaan didalamnya’
Tanjakan itu pun tiba-tiba menyahut
‘Jangan takut anak muda, harmoni kehidupan akan cinta selalu diwarnai dengan emosi jiwa’
‘Kadang ia meluap-luap seperti letusan Semeru, kadang pula ia mengalir lembut seperti udara’
‘Tanyakan pada hatimu, apakah ia siap menerima semua itu?’
‘Jangan pernah menyerah dalam kehidupan, selalu akan ada jalan jika kau percaya’
‘Terima kasih tanjakan cinta, aku akan mencoba’
ia berkata,’ satu lagi anak muda, jangan kau tengok ke belakang jika kau telah mendaki’
‘karna, hal itu akan meruntuh keyakinanmu atas cinta’
Dengan ragu aku melangkah, setapak-setapak aku berjalan
Berat memang, nafas ini tiada berdaya
Dan aku pun tiba diujung tanjakan.
Aku tiada dapat berkata-kata
Hamparan mega membentuk sapuan putih bersahaja sang Pencipta
Inikah puncak kediaman para dewa
Aku tertegun sekali lagi
Begitu indahnya alam raya ini
Tidakkah aku harus bersyukur dapat terlahir dan menyaksikan lukisan alam berjuta warna
‘Dan nikmat manakah yang kamu dustakan?’
(Jogjakarta, 14 Agustus 2007)